Cabang Cabang Filsafat
Disusun oleh : Fauzah al hawa
41817119
41817119
Epistemologi
Epistemologi berasal dari Bahasa Yunani Episteme dan Logos.
Episteme biasa diartikan pengetahuan atau kebenaran, dan Logos diartikan
pikiran, kata, atau teori. Secara etimologi Epistemologi dapat diartikan, teori
pengetahuan yang benar, dan lazimnya hanya disebut teori pengetahuan yang dalam
bahasa Inggrisnya menjadi Theory of Knowledge.
Epistemologi (ma’rifah) dalam bahasa Arab mempunyai banyak penggunaan, tetapi lazimnya berarti pengetahuan (knowledge), kesadaran (awareness), dan informasi. Adakalanya digunakan dalam arti pencerahan khusus (idrak juz’i/ particular perception), kadang-kadang juga dipakai dalam arti ilmu yang sesuai dengan kenyataan dan melahirkan kepastian dan keyakinan. Pengetahuan yang menjadi pokok bahasan epistemologi boleh jadi mempunyai salah satu pengertian tersebut atau pengertian lainnya. Pembahasan mengenai epistemologis tidak terbatas pada satu jenis pengetahuan. Konsep pengetahuan merupakan salah satu konsep paling jelas dan nyata (badihi/ self-evident). Epistemologis dapat didefinisikan sebagai “bidang ilmu yang membahas pengetahuan manusia, dalam berbagai jenis dan ukuran kebenaran.”
Teori epistemologi bertalian erat dengan persoalan idea. Menurut Plato pengetahuan (ma’rifah) tidak lain adalah pengingatan kembali, artinya apabila pancaindera kita berhadapan dengan sesuatu, maka teringatlah kita akan contoh-contohya (mutsul), dan muncullah kembali pengetahuan yang kita peroleh sewaktu kita masih hidup dalam suatu alam, dimana kita dapat melihat ide yang azali dengan jalan pengabstrakan terhadap gambaran-gambaran dari wujud-wujud inderawi.
Epistemologi (ma’rifah) dalam bahasa Arab mempunyai banyak penggunaan, tetapi lazimnya berarti pengetahuan (knowledge), kesadaran (awareness), dan informasi. Adakalanya digunakan dalam arti pencerahan khusus (idrak juz’i/ particular perception), kadang-kadang juga dipakai dalam arti ilmu yang sesuai dengan kenyataan dan melahirkan kepastian dan keyakinan. Pengetahuan yang menjadi pokok bahasan epistemologi boleh jadi mempunyai salah satu pengertian tersebut atau pengertian lainnya. Pembahasan mengenai epistemologis tidak terbatas pada satu jenis pengetahuan. Konsep pengetahuan merupakan salah satu konsep paling jelas dan nyata (badihi/ self-evident). Epistemologis dapat didefinisikan sebagai “bidang ilmu yang membahas pengetahuan manusia, dalam berbagai jenis dan ukuran kebenaran.”
Teori epistemologi bertalian erat dengan persoalan idea. Menurut Plato pengetahuan (ma’rifah) tidak lain adalah pengingatan kembali, artinya apabila pancaindera kita berhadapan dengan sesuatu, maka teringatlah kita akan contoh-contohya (mutsul), dan muncullah kembali pengetahuan yang kita peroleh sewaktu kita masih hidup dalam suatu alam, dimana kita dapat melihat ide yang azali dengan jalan pengabstrakan terhadap gambaran-gambaran dari wujud-wujud inderawi.
Dan karena
epistemologi adalah bagian filsafat yang membicarakan Tentang “bagaimana kita mendapatkan
pengetahuan?” sehingga untuk memperoleh jawabannya, kita harus terlebih dahulu
mengetahui sumber pengetahuannya dan tentang terjadinya pengetahuan maupun asal
mulanya pengetahuan. Dan harus menggunakan metode ilmiah sehingga pengetahuan
itu dapat dipastikan kebenarannya.
Metafisika
Metafisika merupakan
bagian dari aspek ontologi dalam kajian filsafat. Konsepsi metafisika berasal
dari bahasa Inggris: metaphysics, Latin: metaphysica dari
Yunani meta ta physica (sesudah fisika); dari kata meta (setelah,
melebihi) dan physikos (menyangkut alam) atau physis (alam).
Metafisika merupakan bagian Filsafat tentang hakikat yang ada di
sebalik fisika. Hakikat yang bersifat abstrak dan di luar jangkauan pengalaman
manusia. Tegasnya tentang realitas kehidupan di alam ini: dengan mempertanyakan
yang Ada (being), Alam ini wujud atau tidak? Siapakah kita (manusia)?
Apakah peranan kita (manusia) dalam kehidupan ini?. Metafisika secara prinsip
mengandung konsep kajian tentang sesuatu yang bersifat rohani dan yang tidak dapat
diterangkan dengan kaedah penjelasan yang ditemukan dalam ilmu yang lain.
1. Secara
etimologi meta adalah tidak dapat di lihat oleh panca
indera, sedangkan fisika adalah fisik. Jadi metafisika adalah
sesuatu yang tidak dapat di lihat secara fisik. Metafisika tidak bisa di uji
secara empiris karena keberadaanya yang abstrak.
Secara terminology
metafisika Meta berasal (bahasa Italia) berarti setelah atau
dibelakang. Adapun istilah lain metafisika berakar dari kata Yunani, metataphysica.
Dengan membuang ta tambahan dan mengubah physica ke
fisika (physics) jadilah istilah metafisika yang berarti
sesuatu di luar hal-hal fisik. Istilah metafisika diketemukan Andronicus pada
tahun 70 SM ketika menghimpun karya-karya Aristoteles. Kata ini di-Arabkan
menjadi ma’ ba’da al-thabi’ah (sesuatu setelah fisika).
Menurut penuturan para sejarahwan filsafat, kata ini pertama kali digunakan
sebagai judul buku Aristoteles setelah bagian fisika dan
membuat pembahasan umum tentang eksistensi. Sebagian filosof Muslim merasa
lebih cocok menggunakan istilah ma qabla al-thabi’ah (sesuatu
sebelum fisika). Tampaknya, bagian yang berbeda adalah teologi utsulujiyyah. Dalam
karya-karya para filosof Muslim, semua pembahasan di atas digabungkan dalam
bagian “ketuhanan dalam arti umum”. Sedangkan teologi dikhususkan dengan
nama “ketuhanan dalam arti khusus”. Maka, metafisika dipakai untuk menyebut
kumpulan soal-soal teoretis-intelektual filsafat dalam arti umum.
Logika
Logika berasal dari
kata Yunani Kuno yaitu λσγσς (Logos) yang artinya hasil pertimbangan
akal pikiran yang diutarakan lewat kata dan dinyatakan dalam
bahasa. Secara singkat, logika berarti ilmu, kecakapan atau alat untuk
berpikir lurus. Sebagai ilmu, logika disebut sebagai logika Epiteme (Latin: logika
scientia) yaitu logika adalah sepenuhnya suatu jenis pengetahuan
rasional atau ilmu logika (ilmu pengetahuan) yang mempelajari kecakapan untuk
berpikir lurus, tepat dan teratur. Ilmu disini mengacu pada kecakapan
rasional untuk mengetahui dan kecakapan mengacu pada kesanggupan akal budi
untuk mewujudkan pengetahuan kedalam tindakan. Kata logis yang
dipergunakan tersebut bisa juga diartikan dengan masuk akal. Oleh karena itu
logika terkait erat dengan hal-hal seperti pengertian, putusan, penyimpulan, silogisme.
Logika
sebagai ilmu pengetahuan dimana obyek materialnya adalah berpikir (khususnya
penalaran/proses penalaran) dan obyek formal logika adalah berpikir/penalaran
yang ditinjau dari segi ketepatannya. Penalaran adalah proses pemikiran manusia
yang berusaha tiba pada pernyataan baru yang merupakan kelanjutan runtut dari
pernyataan lain yang telah diketahui (Premis) yang nanti akan diturunkan
kesimpulan.
Logika
juga merupakan suatu ketrampilan untuk menerapkan hukum-hukum pemikiran dalam
praktek, hal ini yang menyebabkan logika disebut dengan filsafat yang
praktis. Dalam proses pemikiran, terjadi pertimbamgan, menguraikan,
membandingkan dan menghubungkan pengertian yang satu dengan yang lain.
Penyelidikan logika tidak dilakukan dengan sembarang berpikir. Logika berpikir
dipandang dari sudut kelurusan atau ketepatannya. Suatu pemikiran logika akan
disebut lurus apabila pemikiran itu sesuai dengan hukum-hukum serta aturan yang
sudah ditetapkan dalam logika. Dari semua hal yang telah dijelaskan tersebut dapat
menunjukkan bahwa logika merupakan suatu pedoman atau pegangan untuk berpikir.
Macam - Macam
Logika
Logika Alamiah
1. Logika
Alamiah adalah kinerja akal budi manusia yang berpikir secara tepat dan lurus
sebelum mendapat pengaruh-pengaruh dari luar, yakni keinginan-keinginan dan
kecenderungan-kecenderungan yang subyektif. Yang mana logika alamiah manusia
ini ada sejak manusia dilahirkan. Dan dapat disimpulkan pula bahwa logika
alamiah ini sifatnya masih murni.
2. Logika
Ilmiah
Lain halnya dengan logika
alamiah, logika ilmiah ini menjadi ilmu khusus yang merumuskan azas-azas yang
harus ditepati dalam setiap pemikiran. Dengan adanya pertolongan logika ilmiah
inilah akal budi dapat bekerja dengan lebih tepat, lebih teliti, lebih mudah
dan lebih aman. Logika ilmiah ini juga dimaksudkan untuk menghindarkan
kesesatan atau setidaknya dapat dikurangi. Sasaran dari logika ilmiah ini
adalah untuk memperhalus dan mempertajam pikiran dan akal budi.
Etika
Etika
filsafat sebagai cabang ilmu, melanjutkan kecenderungan seseorang
dalam hidup sehari-hari. Etika filsafat merefleksikan unsur-unsur tingkah laku
dalam pendapat-pendapat secara sepontan. Kebutuhan refleksi itu dapat dirasakan
antara lain karena pendapat etik tidak jarang berbeda dengan pendapat orang
lain.
Etika
filsafat dapat didefinisikan sebagai refleksi kritis, metodis dan sistematis
tentang tingkah laku manusia dari sudut norma-norma susila atau dari sudut baik
atau buruk. Dari sudut pandang normatif, etika filsafat merupakan wacana yang
khas bagi perilaku kehidupan manusia, dibandingkan dengan ilmu lain yang juga
membahas tingkah laku manusia.
Etika
filsafat termasuk salah satu cabang ilmu filsafat dan malah dikenal sebagai
salah satu cabang filsafat yang paling tua. Dalam konteks filsafat yunani kuno
etika filsfat sudah terbentuk terbentuk dengan kematangan yang mengagumkan.
Etika filsafat merupakan ilmu, tetapi sebagai filsafat ia tidak merupakan suatu
ilmu emperis, artinya ilmu yang didasarkan pada fakta dan dalam pembicaraannya
tidak pernah meniggalkan fakta. Ilmu-ilmu itu bersifat emperis, karena
seluruhna berlangsung dalam rangka emperis (pengalaman inderawi) yaitu apa yang
dapat dilihat, didengar, dicium, dan dirasakan. Ilmu emperis berasal dari
observasi terhadap fakta-fakta dan jika ia berhasil merumuskan hukum-hukum
ilmiah, maka kebenaran hukum-hukum itu harus diuji lagi dengan berbalik kepada
fakta-fakta. Dibandingkan dengan ilmu-ilmu lain, etika filsafat tidak membatasi
gejala-gejala konkret. Tentu saja, filsafat berbicara juga tentang yang konkret,
kadang-kadang malah tentang hal-hal yang amat konkret, tetapi ia tidak berhenti
di situ.
Pada
awal sejarah timbulnya ilmu etika, terdapat pandangan bahwa pengetahuan bener
tentang bidang etika secara otomatis akan disusun oleh perilaku yang benar
juga. Itulah ajaran terkenal dari sokrates yang disebut Intelektualisme Etis.
Menurut sokrates orang yang mempunyai pengetahuan tentang baik pasti akan
melakukan kebaikan juga. Orang yang berbuat jahat, dilakukan karena tidak ada
pengetahuan mendalam mengenai ilmu etika. Makanya ia berbuat jahat.
Kalau
dikemukakan secara radikal begini, ajaran itu sulit untuk dipertahankan. Bila
orang mempunyai pengetahuan mendalam mengenai ilmu etika, belum terjamin
perilakunya baik. Disini berbeda dari pengalaman ilmu pasti. Orang-orang yang
hampir yang tidak mendapat pendidikan di sekolah, tetapi selalu hidup dengan
perilaku baik dengan sangat mengagumkan. Namun demikian, ada kebenarannya juga
dalam pendapat sokrates tadi, pengethuan tentang etika merupakan suatu unsur
penting, supaya orang dapat mencapai kematangan perilaku yang baik. Untuk
memperoleh etika baik, studi tentang etika dapat memberikan suatu kontribusi
yang berarti sekalipun studi itu sendiri belum cukup untuk menjamin etika baik
dapat terlaksana secara tepat.
Etika
filsafat juga bukan filsafat praktis dalam arti ia menyajikan
resep-resep yang siap pakai. Buku etika tidak berupa buku petunjuk yang dapat
dikonsultasikan untuk mengatasi kesulitan etika buruk yang sedang dihadapi.
Etika filsafat merupakan suatu refleksi tentang teman-teman yang menyangkut
perilaku. Dalam etika filsafat diharapkan semuah orang dapat menganalisis
tema-tema pokok seperti hati nurani, kebebasan, tanggung jawab, nilai, norma,
hak, kewajiban, dan keutamaan.
Etika
pada hakikatnya mengamati realitas moral secara kritis. Etika tidak memberikan
ajaran melainkan memeriksa kebiasaan, nilai, norma, dan pandangan-pandangan
moral secara kritis. Etika menuntut pertanggungjawaban dan mau menyingkatkan
kerancuan (kekacauan). Etika tidak membiarkan pendapat-pendapat moral yang
dikemukakan dipertanggungjawabkan. Etika berusaha untuk menjernihkan
permasalahan moral, sedangkan kata moral selalu mengacu pada baik-buruknya
manusia sebagai manusia. Bidang moral adalah bidang kehidupan manusia dilihat
dari segi kebaikannya sebagai manusia. Norma-norma moral adalah tolak ukur
untuk menentukan betul salahnya sikap dan tindakkan manusia dilihat dari segi
baik buruknya sebagai manusia dan bukan sebagai pelaku peran tertentu dan
terbatas.
Filsafat
sejarah
Awal
perkembangan filsasfat, filsafat meliputi seluruh jenis ilmu
pengetahuan. Pada masa ini pengetahuan belum terpecah-pecah dan
terspesialisasi. Namun pada masa Renaissannce abad ke 17 dans sesudahnya, ilmu
pengetahuan mengalami perkembangan yang luar biasa sehingga memisahkan diri
dari filsafat. Setelah filsafat pecah menjadi berbagai disiplin ilmu, aktivitas
filsafat tidak mati, tetapi hidup dengan bercorak baru sebagai ilmu istimewa
yang mencoba memecahkan masalah yang tidak terpecah oleh jangkauan ilmu.
Filsafat kemudian memiliki cabang-cabangnya.
De
Vos, dalam E.N.S.I.E ( Eertse Nederlandse Systematich Ingeriche Encyclopedie ),
menggolongkan cabang-cabang filsafat sebagai berikut:
a. Metafisika
b. Logika
c. Ajaran
tentang ilmu pengetahuan
d. Filsafat
alam
e. Filsafat
kebudayaan
f. Filsafat
sejarah
g. Estetika
h. Etika
i. Antroplogi
Kajian ilmu sejarah
mengkaji masalah waktu dan peristiwa. Jadi filsafat sejarah adalah ilmu
filsafat yang memberi jawaban atau sebab dan alasan segala peristiwa sejarah.
Jelasnya, filsafat sejarah adalah salah satu bagian filsafat yang menyelidiki
sebab-sebab terakhir dari suatu peristiwa, serta ingin memberikan jawaban atas
sebab dan alasan segala peristiwa sejarah.
Filsafat sejarah
berusaha mencari penjelasan serta berusaha masuk kedalam dan pikiran cita-cita
manusia sendiri dan memberikan keterangan tentang bagaimana munculnya suatu
Negara, bagaimana proses perkembangan kebudayaannya sampai mencapai
puncak kejayaannya dan akhirnya mengalami kemunduran seperti pernah dialami
oleh Negara-negara pada zaman yang lalu disertai peran pemimpin
terkenal sebagai subjek pembuatan sejarah pada zamannya ( Tamburaka, 1990:130).
Menurut
Al Kudhairi , filsafat sejarah adalah tujuan terhadap peristiwa-peristiwa
historis untuk mengetahui factor-faktor essensial yang mengendalikan perjalanan
peristiwa-peristiwa istoris itu, untuk kemudian mengikhtisarkan hokum-hukum
yang tetap. Yang mengarahkan perkembangan berbagai bangsa dan Negara berbagai
masa dan generasi.sementara itu, F Laurent mengatakan sejarah tidak mungkin
hanya merupakan seperangkat rangkaian peristiwa yang tanpa tujuan atau makna.
Dimana sejarah tunduk sepenuhnya pada hakekat Tuhan seperti peristiwa alam yang
tunduk pada hukum-hukum yang mengendalikan.
Menurut prof. Sartono
Kartodirjo filsafat sejarah adalahsalah satu bagian filsafat yang berusaha
memberikan jawaban terhadap pertanyaan mengenai makna suatu proses peristiwa
sejarah. Manusia berbudaya tidak puas dengan pengetahuan sejarah, dicarinya
makna yang menguasai kejadian-kejadian sejarah. Dicarinya hubungan antara
fakta-fakta dan sampai kepada asal dan tujuannya.
Sedangkan
kedudukan atau status filsafat sejarah di jelaskan pula oleh The Liang Bie “
filsafat sejarah sebagai anak cabang filsafat yaitu filsafat khusus adalah
suatu cabang filsafat yang mengkaji bidang-bidang khusus. Misalnya spesifik
dari pengalaman atau kegiatan hidup manusia. Filsafat khusus disini terdiri
dari: filsafat kebudayaan, filsafat seni, filsafat politik, filsafat
pendidikan dan filsafat sejarah.
Menurut S. Tulman,
filsafat merupakan sebuah anak cabang atau anak ranting dari sejarah ilmu.
Filsafat ilmu dimaksud disini antara lain: ontology ( hakekat pengetahuan),
Epistimology ( cara memproleh pengetahuan), Oksiology ( manfaat ilmu
pengetahuan).
Jadi, filsafat sejarah
adalah cabang dari filsafat yang mempelajari tentang prinsip-prinsip mendasar (
hakekat) sejarah sejauh dapat ditangkap oleh akal dan dapat dipertanggung
jawabkan secara ilmiah, artinya bersifat rasional-ilmiah. Filsafat sejarah
mempelajari tentang prinsip-prinsip dasar keilmuan sejarah. Prinsip sejarah
membicarakan “ada” sebagai sejarah. Pertanyaan yang dapat dikemukakan dalam
filsafat sejarah adalah struktur mendasar atau esensi dasar apa yang
menyebabkan sejarah ( masa lampau ) itu menjadi atau hal-hal mendasar apa yang
menyebabkan sesuatu itu terjadi atau berubah. Filsafat sejarah membicarakan
hakekat sejarah atau esensi dasar sejarah.
DAFTAR PUSTAKA
1.
Ahmad Hanafi, M.A. Pengantar Filsafat Islam, cet.V. Jakarta: PT Bulan Bintang 1991.
2. Amsal Bakhtiar.
Filsafat Islam. Jakarta: Logos Wacana Ilmu, 1997.
3. Bakhtiar, Amsal.
Filsafat Ilmu. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2005.
4.
Jujun S.Suriasumantri. Filsafat Ilmu: Sebuah Pengantar Populer, cet.18.
Jakarta:Pustaka Sinar Harapan, 2005.
5. Kartanegara, Mulyadhi. Menyibak Tirai Kejahilan: Pengantar Epistemologi Islam. Bandung: Mizan, 2003
5. Kartanegara, Mulyadhi. Menyibak Tirai Kejahilan: Pengantar Epistemologi Islam. Bandung: Mizan, 2003
6.
Muhammad Baqir Ash-Shadr. Falsafatuna. Cet.VI. Bandung: Mizan, 1998
7. Muthahhari, Murtadha. Mengenal Epistemologi: Sebuah Pembuktian Terhadap Rapuhnya Pemikiran Asing Dan Kokohnya Pemikiran Islam. Jakarta: Lentera, 2001.
8. Surajiyo, Filsafat Ilmu Dan Perkembangannya di Indonesia: SuatuPengantar.ed.I,cet.3. Jakarta: Bumi Aksara, 2008.
7. Muthahhari, Murtadha. Mengenal Epistemologi: Sebuah Pembuktian Terhadap Rapuhnya Pemikiran Asing Dan Kokohnya Pemikiran Islam. Jakarta: Lentera, 2001.
8. Surajiyo, Filsafat Ilmu Dan Perkembangannya di Indonesia: SuatuPengantar.ed.I,cet.3. Jakarta: Bumi Aksara, 2008.
9. Yazdi,M.Taqi
Mishbah. Buku Daras Filsafat Islam, cet.1. Bandung: Mizan, 2003
10. Alfan, Muhammad. 2011. Filsafat
Etika Islam. Bandung. Pustaka Setia.
11. Abdullah, M. Yatimin.
2006. Studi Etika. Jakarta. Rajawali Perss.
12. Esha, Muhammad In’am.
2010. Menuju Pemikiran Filsafat. Jakarta. Maliki
13. Mufid, Muhamad. 2009. Etika
Filsafat Komunikasi. Jakarta. Kencana.
14. Sumarna, Cecep. 2008. Filsafat
Ilmu. Bandung. Mulia Pers.
15. Surajiyo.
2005. Ilmu Filsafat. Jakarta. Bumi Aksara.
Komentar
Posting Komentar