Filsafat Cinta
Disusun oleh : Fauzah al hawa
41817119
41817119
Filsafat
Cinta Dalam Manusia
(Scheller,
Gabriel Marcel, dan Sartre)
Cinta Plato
Apakah
binatang memiliki cinta? Mungkin kita bisa melihat induk binatang yang menyusui
dan merawat anaknya sebagai sebentuk cinta yang natural. Tapi benarkah itu
adalah bentuk cinta? Apakah yang membentuk sebuah cinta: insting atau akal
budinya? Kalau ada sepasang merpati yang sulit dan begitu sulit dipisahkan,
apakah hal ini bisa dikatakan sebagai sepasang kekasih dengan cinta sejati?
Merujuk pada pemikiran Aristoteles bahwa binatang disebut binatang karena adanya
jiwa instingtif di dalamnya (jiwa sebagai pembentuk kehidupan. Pada tumbuhan
disebut jiwa vegeter dan pada manusia jiwa rasional). Jadi, apa yang kita lihat
sebagai fenomena cinta pada binatang sebenarnya bersifat instingtif dan non
rasional. Menarik bahwa dalam pemikiran eksistensialisme, cinta dilihat sebagai
sesuatu yang sangat positif, luhur, dan kuat namun sekaligus ada yang melihat
dengan sangat skeptis.
Menurut
Scheler ada tiga macam kegiatan manusia yang memberi ciri khas kemanusiaannya
sebagai pribadi. Ketiga hal tersebut adalah :
a. Refleksi
yaitu kegiatan membuat dirinya sebagai obyek pemikiran. Inilah yang menyebabkan
manusia mengenali dirinya sebagai manusia, mempelajari bukan hanya tubuhnya
sendiri tapi juga jiwanya. Ini khas pada manusia karena binatang hampir tidak
bisa mengenali dirinya.
b. Abstraksi
atau ideasi, menangkap hakekat dari keberadaan di luar dirinya (eksistensi).
Dengan pikirannya, manusia bisa mengenali yang berbeda dengan dirinya,
mempelajarinya dan menguasainya. Ia bisa mengenal atau setidaknya merefleksikan
adanya Tuhan, misalnya.
c. Cinta.
Cinta merupakan kegiatan paling penting sebagai pribadi. Cinta dan benci adalah
tindakan primordial manusia yag mendasari tindakan lain. Pribadi seseorang
dapat diukur dari cintanya.
Cinta
merupakan bagian pribadi manusia yang diarahkan kepada nilai absolut.
Cinta ini megarahkan pribadi melampaui keterbatasannya (unsur transendensi).
Yang diperlukan adalah penyerahan diri, kesetiaan pada institusi dengan
melepaskan segala a priori. Bukan kenginan untuk menguasai. Perlu kerendahan
hati dan penguasaan diri.
Pemikiran
tentang cinta sangat kuat dalam eksistensialismenya Gabriel Marcel. Menurutnya,
cintalah yang memanggil manusia untuk mengadakan hubungan eksistensial. Cinta
bukanlah perasaan emotif tapi menjadi inti kehidupan yang berproses dalam
hubungan manusia. Dia merumuskan empat tahapan cinta sebagai berikut:
1.Kerelaan
(disponibilite): sebuah sikap kesediaan untuk terbuka, membiarkan agar orang
lain masuk dalam hubungan denganku. Sifat semacam ini berlawanan dengan sikap
kepemilikan yang menutup diri, mencari untung bagi diri sendiri dan menganggap
yang lain sebagai objek.
2.Penerimaan
(receptivite), sikap inisiatip, memulai aktivitas dalam hubungan dengan
mempersilahkan yang lain memasuki duniaku, atau mendengarkan yang lain;
menyediakan tempat dalam diriku untuk yang lain.
3.Keterlibatan
(engagement) sikap yang lebih dalam lagi karena aku ikut ambil bagian yang lain
dalam hubungan itu, memberikan perhatian khusus terhadap perencanaan-perencanaannya
dan menanggapi secara positif sehingga kami dapat seiring sejalan.
4.Kesetiaan
(fidelite) merupakan sikap total dalam hubungan cinta. Kesetiaan bukanlah
ikut-ikutan tanpa pendirian, melainkan kesediaan untuk terlibat dengan segala
resiko yang ada. Setia bukanlah menjalankan yang rutin tapi membiarkan dirinya
menjadi taruhan.
Cinta Plato
Bagi
Plato, Cinta adalah sebuah kekuatan, sebuah penggerak bagi jiwa untuk selalu
mengarah pada Sang Idea. Di dunia, jiwa manusia adalah pengembara yang berjalan
untuk kembali kepada Sang Idea. Jiwa manusia adalah itu yang selalu terhubung
pada Dunia Idea. Jiwa manusia tak pernah berhenti mencari Sang Idea agar ia
dapat kembali ada kesatuan asalinya. Mengapa? Karena dari sanalah jiwa manusia
yang abadi itu berasal.
Kekuatan yang
menggerakkan jiwa manusia sehingga tak pernah berhenti mencari Sang Idea adalah
Cinta. Cinta tak bisa mematikan. Cinta menghidupkan. Cinta menggairahkan
jiwa-jiwa yang lelah mengembara di dunia. Dalam gairah itu, jiwa manusia
berkelana mengenali pasangan jiwanya. Mengapa? Karena konsep platonian memperkenalkan
jiwa manusia sebagai satu kesatuan asali. Itulah sebabnya ketika satu pasang
manusia sedang jatuh cinta, mereka terarah untuk menyatukan seluruh hidup
mereka. Sudah pada kodratnya, menurut Plato, manusia digerakkan oleh Cinta
untuk bersatu.
Plato melihat
bahwa manusia-manusia terbaik adalah mereka yang memiliki Cinta di dalam
dirinya. Sebagaimana ia membagi fungsi jiwa manusia ke dalam 3 bagian: epithumea
(nafsu makan, minum, seks), thumos (afeksi, rasa, semangat, agresi) dan logistikon
(berpikir), Plato mengelompokkan manusia terbaik sebagai manusia yang mencintai
kebijaksanaan (philosopos). Plato meyakini bahwa Cinta yang menggerakkan
manusia terbaik ini untuk mencari apa yang terbaik bagi dirinya, yaitu
kebijaksanaan. Cinta memang menggerakkan manusia untuk menemukan hal terbaik
bagi hidupnya.
Ontologi Cinta Paul Tillich
Paul Tillich
melihat Cinta pertama-tama sebagai sebuah “kekuasaan yang menggerakkan
kehidupan”. Cinta menjadi semacam motor utama yang
menggerakkan roda kehidupan. Kehidupan sendiri merupakan sebuah aktualitas.
Kehidupan tidak berada dalam ranah “maya” melainkan “nyata”. Oleh Paul Tillich,
frasa-frasa di atas menunjukkan bagaimana hakekat ontologis dari Cinta. Ada
(kehidupan) tidak akan menjadi aktual tanpa Cinta yang mendorong suatu ada pada
ada yang lainnya. “Ada” menjadi semacam “Tidak Pernah Ada” tanpa Cinta.
Dalam
pengalaman pribadi manusia tentang Cinta, kehidupan dapat terwujud secara
hakiki. Mengapa demikian? Karena Cinta adalah penggerak utamanya. Maka roda
kehidupan tanpa Cinta adalah mustahil. Relasi, yang menjadi dasar komunitas manusia,
ada karena Cinta yang menggerakkan beberapa pihak untuk berkumpul. Manusia
dapat menjadikan dirinya Ada dan bergerak karena ada Cinta yang mendorongnya.
Paul Tillich
kemudian melihat bahwa segala yang Ada ini pada mulanya satu di dalam Cinta. Cinta adalah pengikat yang menjadikan segala yang Ada ini
satu dan utuh. Dengan demikian, hakekat dari Cinta adalah mempersatukan apa
yang pada mulanya sudah satu dan utuh. Cinta tidak mempersatukan apa yang sejak
semulanya terpisah. Artinya, Cinta bukanlah dia yang memungut segala “benda”
yang secara esensial terpisah lalu kemudian menjadikannya satu laiknya sesuatu
yang sejak awal adalah satu. Apa yang secara esensial terpisah tak bisa
dijadikan satu. Cinta hanya menyatukan apa yang sejak awal berasal dari satu
kesatuan asali.
Paul Tillich
ingin menunjukkan bahwa Cinta berproses seperti medan magnet yang menarik hanya
unsur besi yang sejak semula berasal dari kesatuan asalinya sebagai besi. Cinta
itu menarik kembali apa yang berasal dari padanya. Cinta itu memeluk apa yang
sejak semula berasal dari pelukannya. Ia tidak memeluk apa yang bukan dari
dirinya.
Ontologi Cinta
Paul Tillich ini menunjukkan bahwa Cinta pada hakekatnya adalah satu, hanya
sifatnya yang beragam. Keberagaman sifat Cinta ini tidak menjadikan Cinta dalam
jenis yang berbeda. Cinta adalah satu, dari titik inilah orang pertama-tama
harus mulai memahami Cinta. Entah kemudian orang mengenal Eros, Agape,
Epithymia dan lain sebagainya, itu hanyalah sifat-sifat Cinta dilihat
dari bagaimana orang memandangnya.
Ada satu bagian
dari pemikiran Paul Tillich dalam melihat fenomen “Cinta Diri” yang kerap
muncul dalam pembicaraan manusia dari masa ke masa. Benarkah konsep Cinta Diri?
Mengapa frasa ini kemudian menjadi kajian pemikiran Paul Tillich juga dalam
memahami ontologi Cinta? Pada bagian awal sudah dijelaskan bagaimana Cinta
merupakan dia yang mempersatukan apa yang sejak awal berasal dari kesatuan
asali. Karena mempersatukan, berarti ada unsur keterpisahan. Lantas ketika
manusia mengalami “Cinta Diri”, apakah ia mengalami keterpisahan dengan
dirinya? Paul kemudian memahami bahwa Cinta Diri merupakan sebatas metafora
yang tidak memiliki ruang dalam realitas. Sebagai
metafora, Cinta Diri bisa diterjemahkan dalam beragam konteks.
Contoh filsafat
cinta dalam kehidupan sehari-hari :
Yang
paling sederhana kreativitas cinta dapat terlihat dalam karya-karya manusia.
Seniman yang mencintai seninya menghasilkan karya seni, petani yang mencintai
pekerjaannya menghasilkan panenan, dll.
DAFTAR PUSTAKA
1. Sigmund Freud, A.M. Krich, dkk, Antonomi Cinta , ( Komunitas Bambu , 2009 )
2. Nurani Soyomukti , Memahami Filsafat Cinta , ( Surabaya: Prestasi Pustaka , 2008 )
3. Sabrina Maharani , Filsafat Cinta ,( Yogyakarta: Garasi , 2014 )
4. Armada Riyanto, Menjadi-Mencintai: Berfilsafat Teologis Sehari-hari, Yogyakarta: Kanisius, 2013, hlm. 157.
5. Fromm, Erich. The Art of Loving. London: Unwin Books. 1957.
6. Hariyadi, Mathias. Membina Hubungan Antarpribadi: Berdasarkan Prinsip Partisipasi,Persekutuan, dan Cinta Menurut Gabriel Marcel. Yogyakarta: Kanisius.1994.
7. Riyanto, Armada. Katolisitas Dialogal. Yogyakarta: Kanisius. 2014.
8. Menjadi-Mencintai: Berfilsafat Teologis Sehari-hari. Yogyakarta: Kanisius. 2013.
9. Tillich, Paul. Cinta Kekuasaan & Keadilan:Makna Dasar dan Implikasi Etis (terj. Muhammad Hardani). Surabaya: Pustaka Eureka. 2004.
10. Wibowo, Setyo A. Arete: Hidup Sukses Menurut Platon. Yogyakarta: Kanisius. 2010.
1. Sigmund Freud, A.M. Krich, dkk, Antonomi Cinta , ( Komunitas Bambu , 2009 )
2. Nurani Soyomukti , Memahami Filsafat Cinta , ( Surabaya: Prestasi Pustaka , 2008 )
3. Sabrina Maharani , Filsafat Cinta ,( Yogyakarta: Garasi , 2014 )
4. Armada Riyanto, Menjadi-Mencintai: Berfilsafat Teologis Sehari-hari, Yogyakarta: Kanisius, 2013, hlm. 157.
5. Fromm, Erich. The Art of Loving. London: Unwin Books. 1957.
6. Hariyadi, Mathias. Membina Hubungan Antarpribadi: Berdasarkan Prinsip Partisipasi,Persekutuan, dan Cinta Menurut Gabriel Marcel. Yogyakarta: Kanisius.1994.
7. Riyanto, Armada. Katolisitas Dialogal. Yogyakarta: Kanisius. 2014.
8. Menjadi-Mencintai: Berfilsafat Teologis Sehari-hari. Yogyakarta: Kanisius. 2013.
9. Tillich, Paul. Cinta Kekuasaan & Keadilan:Makna Dasar dan Implikasi Etis (terj. Muhammad Hardani). Surabaya: Pustaka Eureka. 2004.
10. Wibowo, Setyo A. Arete: Hidup Sukses Menurut Platon. Yogyakarta: Kanisius. 2010.
Komentar
Posting Komentar